DIMAS DENGAN IDOLA NYA
IDOLA SAYA"HANIFAH YUDANI KUSUMA"
Hanifan Yudani Kusumah, Sang Pesilat Emas Indonesia
Hanifan Yudani Kusumah, atau lebih dikenal dengan sebutan Hanifan YK, adalah salah satu atlet pencak silat Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Ia lahir dan besar di Jawa Barat, daerah yang kental dengan tradisi pencak silat. Sejak kecil, Hanifan sudah mengenal pencak silat karena lingkungan keluarganya dekat dengan budaya bela diri asli Indonesia tersebut. Dari sinilah benih cintanya terhadap silat mulai tumbuh.
Hanifan kemudian bergabung dengan Perguruan Tadjimalela, sebuah perguruan pencak silat terkenal di Indonesia. Di sana ia berlatih dengan disiplin tinggi, menempa diri melalui gerakan-gerakan dasar hingga teknik bertarung tingkat lanjut. Tak jarang, ia harus mengorbankan waktu bermain bersama teman-temannya demi terus berlatih. Semua itu ia lakukan dengan penuh semangat karena ia bercita-cita menjadi pesilat hebat yang bisa membanggakan orang tua dan bangsa.
Perjuangan kerasnya membuahkan hasil. Hanifan mulai menorehkan prestasi di berbagai kejuaraan, baik tingkat daerah maupun nasional. Namun, puncak kariernya terjadi pada tahun 2018, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games di Jakarta dan Palembang. Saat itu, Hanifan dipercaya untuk mewakili Indonesia dalam cabang olahraga pencak silat kelas C putra (56–60 kg).
Perjalanan menuju final tidaklah mudah. Hanifan harus menghadapi lawan-lawan tangguh dari berbagai negara. Namun, berbekal semangat juang dan teknik yang matang, ia berhasil melangkah hingga babak terakhir. Di final, Hanifan berhadapan dengan pesilat asal Vietnam, Nguyen Thai Linh. Pertarungan berlangsung sengit, namun Hanifan mampu menunjukkan keunggulan teknik dan mentalnya. Pada akhirnya, ia berhasil mengalahkan lawannya dan mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.
Kemenangan Hanifan menjadi sangat istimewa karena emas yang diraihnya merupakan emas ke-29 bagi Indonesia di Asian Games 2018. Namun, bukan hanya emas yang membuat namanya viral, melainkan juga aksi spontan penuh makna yang ia lakukan setelah pertandingan. Setelah menerima medali, Hanifan berlari menuju tribun kehormatan, lalu memeluk Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia).
Momen pelukan itu langsung menjadi sorotan media dan publik. Di tengah suasana politik yang saat itu penuh perbedaan, Hanifan berhasil menghadirkan simbol persatuan. Ia menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang menyatukan bangsa. Banyak orang terharu dan bangga dengan tindakannya, sehingga namanya semakin dikenal luas, tidak hanya sebagai pesilat berprestasi, tetapi juga sebagai simbol perdamaian.
Setelah Asian Games, Hanifan terus aktif dalam dunia pencak silat. Ia mengikuti berbagai kejuaraan internasional dan menjadi panutan bagi pesilat muda di seluruh Indonesia. Selain itu, ia juga sering terlibat dalam kegiatan untuk melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia melalui UNESCO.
Bagi Hanifan, pencak silat bukan sekadar olahraga, melainkan identitas dan kebanggaan bangsa Indonesia. Dengan semangatnya, ia ingin terus menginspirasi generasi muda agar mencintai budaya sendiri dan berani bermimpi besar. Hanifan Yudani Kusumah adalah bukti nyata bahwa dengan kerja keras, disiplin, dan cinta tanah air, seseorang bisa mencapai prestasi gemilang sekaligus mengangkat nama Indonesia di mata dunia

Komentar
Posting Komentar